Jumat, 02 Desember 2022

BALADA PRIA 70 TAHUN

 *"BALADA PRIA 70 TAHUN"*

oleh : A Slamet Raharjo


*_'Rasanya belum lama, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Anak-anak yang dulu kecil, tak terasa besar dengan sendirinya, mereka sudah jadi sarjana dan kerja, sudah punya anak yg lucu-lucu. Kita-kita sudah punya cucu, kita sudah tidur dengan nenek-nenek, tapi ada teman-teman kita yg anaknya belum kawin, karena telat kawinnya.


Bahagianya dekat cucu, karena dulu dengan anak tak dekat, tak banyak waktu, saat itu sedang berat-beratnya bekerja, kurang waktu untuk mereka.


*_'Rasanya belum lama, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Burung yg dulu perkasa, sekarang sudah kurang berdaya, kalaupun bisa : _may be yes, may be no,_ malah ada yang sudah _disfungsi_.


Semakin tua, istri juga mulai malas melayani, kalau melayani setengah terpaksa, menopause bikin susah menikmatinya. Akibatnya kita kena prostat. Tapi kalau lihat barang bening, mata masih nakal, pikiran masih binal, tetapi hanya sampai di situ. _Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai._


*_'Rasanya belum lama, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Sudah mengalami pahit manis getirnya dunia, asin hambar kecut gurihnya bumi. Dulu banyak yg orang tuanya melarat, moto orang tua dulu: _banyak anak banyak rejeki._ Ternyata tidak begitu, hidup mereka jadi berat dan melarat. Bisa kuliah di Universitas, itu sebuah keberuntungan. Kebanyakan kuliah dengan biaya sendiri, sambil kuliah ngajar/ngasih les, sambil kuliah nyopir taksi, sambil kuliah bikinkan skripsi, sambil kuliah *_'jual beli'_ :* jual celana beli nasi.


Bekerja keras, bertahan hidup, alhamdulilah lulus, lalu merangkak dari bawah, berjuang menjadi kepala kereta api, menggeret gerbong keluarga, membiayai saudara, agar lulus sarjana, membiayai orang tua yg kehabisan dana. Tak mengeluh dan mengaduh, menjalaninya dengan ikhlas dan gembira.


*_'Rasanya belum lama, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Momen paling bahagia adalah ketika diterima di universitas, ketika lulus jadi sarjana : yang pinter jadi peneliti atau dosen, ada dahulu yang malas dan nyontekan malah jadi bos. Yg jadi wiraswasta, mentalnya harus jadi orang kaya, modalnya nyali dan doa, harus berani ngomong besar, harus kerja keras, tidak siang tidak malam, kerja, jatuh, bangun lagi, jatuh, bangkit lagi, hingga kurang waktu untuk anak-anak, kurang waktu untuk isteri.


Ada yg beruntung sukses, ada yg tidak beruntung nyungsep, rejeki tak bisa dikejar, kalau waktunya tiba, rejeki datang sendiri, tetapi kalau tanpa usaha, mana mungkin rejeki menghampiri. Alhasil sejak umur empat puluhan, banyak yg sudah mulai terjaga : rumah mobil tanah sudah ada, piknik keluar negeri, makan mahal dan nginap di hotel berbintang, nonton musik dan nyawer.


*_'Rasanya belum lama, ternjata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Waktu kerja dulu adalah waktunya mencari dan menyimpan, waktu sudah tua, waktunya pensiun berhenti kerja, waktunya menjaga harta dan melepas perlahan sesuai kebutuhan, agar di masa tua aman, bisa mencukupi semua kebutuhan, syukur bisa memberi warisan, bisa mengurus kebutuhan sendiri, tanpa mengganggu anak, karena anak kita punya kebutuhan sendiri.


*_'Rasanya baru kemarin, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Sudah saatnya pikirkan masa depan, bila diberi hidup 10 Tahun lagi, berapa kebutuhan 10 Tahun ke depan, berapa dana yang harus disimpan, taruh dana di deposito, pilih bank meyakinkan, walau kecil bunganya, tapi aman. Dana cadangan tunai harus cukup, apalagi kalau tak ada asuransi, bila ada yang sakit uang dibutuhkan, bila ada kebutuhan mendadak, uang diperlukan.


Investasi di masa tua dihindari, salah-salah habis merugi, salah-salah mewariskan hutang. Siapkan dana tunai yang cukup, aset yg ada dijual, berlian, emas, kalau perlu dijual, rumah yg besar dan luas, kalau terpaksa dijual juga, lalu beli rumah yang dibutuhkan, bukan yang diimpikan, atau tinggal di apartemen, bahkan tinggal di panti jompo, toh kembali pokok, tinggal berdua, anak anak sudah meninggalkan rumah, sudah 4 L : _lu lagi, lu lagi._


*_'Rasanya baru kemarin, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Harus bersiap tinggal di panti jompo, tidak perlu gengsi, tidak perlu malu, jaman sudah berubah, tak perlu dengar gunjingan orang, karena akan banyak panti jompo bagus, di situ ada banyak fasilitas lengkap : ada suster, dokter yg setiap saat bertugas, ada menu makanan sehat berkualitas, karena anak-anak belum tentu punya waktu mengurus, seperti saat kita mengurus mereka.


Bukankah sekarang terasa rumah membebani, biaya listrik, air dan iuran sarana, besar. Ketika pembantu tak ada, sopir tak ada, baru terasa beratnya urusan rumah. Padahal capai sedikit badan sudah menjerit, malah-malah bisa jatuh sakit. Biaya kesehatan makin besar, seperti memelihara mobil tua. Ternyata makin tua, makin kaya, _makin kaya penyakit._


Kesehatan jadi urutan pertama, sehat ukurannya gampang : tidur nyenyak, makan enak...... dan lancar kencing berak.


*_'Rasanya belum lama, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'_*


Saatnya jangan terlalu pelit untuk diri sendiri, sudah cukup cinta dan materi kepada anak, isteri, orang tua dan saudara, kita beri. Saatnya memperhatikan diri. Siapkan duit untuk kebutuhan ini. Celakanya, saat muda mau makan enak duit tak ada, saat tua, duit ada, makan enak tak bisa. Itu namanya *apes*. Polisinya istri dan anak, mereka galak semua. Ini dilarang, itu dilarang, ketika lemes, pusing dan sakit-sakitan, dibilang dokter kurang gizi. *_Alamak_!*


*_'Rasanya baru kemarin, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Celaka, kita masih memikirkan masa depan anak kita, bahkan cucu kita. Ingin membantu keuangan mereka, merasa itu tanggung jawab kita. Kita jadi stres sendiri, kita bisa stroke malah bisa out. Bukankah anak anak punya rejeki masing-masing? Kita tidak boleh terlalu protektif, bisa-bisa mereka tidak mandiri. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengenalkan anak ke Sang Pencipta, memberi panutan dan tuntunan, mengajarkan moral dan budi pekerti, membiayai anak jadi sarjana, bisa membiayai perkawinan mereka, bisa kasih uang muka rumah sederhana, *yang terpenting* memberi waktu, perhatian dan cinta.


*_'Rasanya baru kemarin, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Anak-anak ke luar rumah, mereka sudah berkeluarga, di rumah tinggal berdua, rumah besar yg di mimpi, sudah ada dan nyata, tetapi sunyi.


Di rumah ada isteri, teman bercanda, berbagi rasa, teman dalam untung dan malang, partner berbincang juga partner perang, bisa perang mulut atau perang bisu, kata orang, itu buahnya pernikahan. Semua itu tidak mengapa, itu biasa, selama menyempurnakan rumah tangga, asal menambah kemesraan dan cinta.


Isteri tambah tua, tambah pula bawelnya, tambah pula bobotnya, tambah banyak cemburunya. Itu dari sononya, terima saja. Kita juga begitu, gampang tersinggung, gampang marah, merasa mau menang, padahal kurang memberi uang, malah kadang ngutang.


Kita sekamar tapi nonton TV-nya beda. Kita suka film action, dia suka drama Korea, manusia diciptakan berbeda, justru itulah keindahannya, seperti pelangi di cakrawala, indah, karena kombinasi berbagai warna.


*_'Rasanya baru kemarin, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Dulu waktu muda, semua sibuk, di luar sibuk kerja, ada isteri kerja, ada isteri jadi ibu rumah tangga, waktu berdua terbatas karenanya.


Saat tua ada baiknya, banyak waktu bersama, berjalan, bergandengan tangan, beribadah, ziarah dan piknik bersama, saling memberi saling melayani, saatnya menambal luka.


Saatnya mesra, saatnya berbagi suka, karena sejatinya, istri adalah *garwo,* _sigaraning nyowo._ Istri adalah pembawa rejeki kita.


*_'Rasanya baru kemarin, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Ketika berhenti kerja, saatnya bisa mengisi hari-hari, mencari passion kita.


Yg hobi menulis, menulislah, yg hobi melukis, melukislah, yg hobi membaca, membacalah, yg hobi tanaman, bertanamlah, yg hobi menyanyi, menyanyilah, yg hobi kerja, bekerjalah, boleh kerja, tetapi yang ringan saja. Raga harus aktif, pikiran harus dilatih _stay happy._ *Otak harus on,* seperti naik sepeda, kalau berhenti, jatuh bangun lagi.


*_'Rasanya baru kemarin, ternyata sudah 70 Tahun umurnya'._*


Teman-teman berguguran, kita antri menunggu panggilan, yang alim, dermawan dan baik, biasanya duluan.


Waktunya bertobat, belum terlambat, waktunya dengan Allah, kita dekat. Waktunya ta'at beribadah, waktunya banyak amal kita buat, waktunya kita membuat wasiat, membagi warisan untuk anak kita, supaya tidak menjadi bencana, bila terjadi sesuatu pada kita. Semua tahu semua terencana, karena _warisan itu bermata dua : bisa jadi hadiah, bisa jadi musibah,_ setidaknya kita bisa mengantisipasi.


*_'Rasanya baru kemarin, ternyata sudah 70 Yahun umurnya'._*


Anak-anak sekarang bukan seperti kita dulu, nurut sama orang tua. Mereka kini punya pendapat sendiri, kadang kita tidak mengerti. Kita tidak bisa memaksa, hanya bisa mengarahkan dan memberikan nasehat, bila didengar. Belum tentu anak kita mau melanjutkan usaha kita, yang nyata sudah terbukti hasilnya. Bila anak lelaki kita kawin, kita harus siap kehilangan, bila anak perempuan kita kawin, mudah-mudahan ia masih kita miliki, _harta berharga kita hanyalah *melihat anak.*_


Mereka bahagia, kita ikut bahagia, _semua pencapaian kita, akan *tidak berarti,* ketika anak kita gagal._

Kamis, 24 November 2022

Kegamangan“Sang Pemimpi” Berbuah Kesuksesan

 _Di Balik Suksesnya Porprov x Riau di Kuantan Singingi_


DALAM lakon atau pertunjukkan,  orang selalu melihat siapa pemeran utama dan sutradaranya. Namun siapa di balik layar terkadang terlupakan – bahkan tak pernah dibicarakan. 


Ibarat, habis manis sepah dibuang!


Banyak orang nyaman di depan layar.  Sebaliknya banyak pula nyaman di belakang layar. 


Plt. Kadis PUPR Kuantan Singingi Pebri Mahmud, satu di antara yang nyaman di belakang layar.  Dia, salah seorang di balik sukses pelaksanaan Porprov Riau ke-10 di Kuantan Singingi yang berakhir pekan lalu. 


Profil singkatnya kira-kira seperti ini: rendah hati, enggan dipuja apalagi dipuji, sederhana dan low profile. Intelektual berpendidikan tinggi: alumnus S-2 Teknik Sipil UGM Yogyakarta ini punya visi jauh kedepan. Melebihi usianya yang baru 41 tahun. 


Kerja ikhlasnya bersama tim (PUPR) terbukti sudah membuahkan hasil  luar biasa. Berkat tangan dinginnya bersama tim, berbagai pujian  tertuju kepada Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi. 


“Siapa yang tak bangga dan terharu…?”


Namun sebelum pujian itu disampaikan, Pebri mengatakan dirinya sebelum Porprov berada dalam kegamangan.“Lai kan sudah atau indak kojo iko.”


Namun tekadnya bersama tim  sudah bulat. Berjuang siang malam mempersiapkan sarana prasarana. Segala sumber daya dikerahkan: alat berat, dumptruk, taronton, trado milik PUPR  dikerahkan. Sampai-sampai petugas irigasi se-Kuantan Singingi bahu membahu mempersiapkan sarana prasarana Porprov. 


Plt. Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby menyebut kerja Pebri dan tim itu,  “luar biasa….” BUKAN “biasa di luar…”


“Maksudnya”


Hanya Sekretaris Umum Ikatan Keluarga  Kuantan Singingi (IKKS) Pekanbaru, Arman Lingga Wisnu yang tau soal itu. 


Berkat kerja luar biasa itu kata Arman,  “Semua lelah hilang ketika menyaksikan acara pembukaan yang begitu spektakuler.”


“Kalau kerja biasa di luar, bagaimana pula  Bang Arman?”


“Kerjanya tak kan selesai selesai.”


“Nyindir nie yeee,” 


“Taklah,”


“Terserah awaklah yang menafsirkannya,” elak Arman sambil bergurau.


Kepada sahabat JANG ITAM,  Arman tanpa bermaksud memuji Pebri mengatakan: “Di situlah nilai plus kerja luar biasa dinda Pebri.”  


“Lagian yang bersangkutan (Pebri, red) tak  haus pula dengan pujian itu. Dinda Pebri itu tawadhuk,” tambah Arman tersenyum. 


Pebri dan Kawan-kawan di  PUPR sudah terlatih bekerja siang malam. Bekerja di belakang layar. Sepi dari pujian. 


“Benarkah Pebri tidak haus dengan pujian? Padahal  pujian itu pantas diberikan kepadanya dan tim?”


“Saya berani  bilang tidak….”tambah Arman


Tak percaya bacalah pesan singkat di grub whatsapp milik Dinas PUPR Kuantan Singingi. Selaku Plt. Kadis, Pebri mengatakan,”


 “Banyak dari kami yang meneteskan air mata kebahagiaan ketika Porprov sukses.”


“Lelah kami terbayar sudah...”


“Alhamdulillah.... “


“Terima kasih kawan-kawan PUPR yang telah ikut serta mensukseskan Pembukaan Porprov Riau X tahun 2022”


Dalam pandangan Arman, sebagai pekerja, Pebri memang mempunyai *mimpi*. Tapi dia bukanlah seorang yang ambius, apalagi  untuk meraih sebuah jabatan. 


Jabatan bagi Pebri adalah amanah dari Yang Maha  Kuasa: siap datang dan diambil kapan saja. 


Kendati  Plt. Bupati Kuantan Singingi,  Suhardiman Amby memberikan jabatan sebagai Plt. Kadis PUPR pada 7 Nopember 2022 lalu  itu semata-mata karena kompetensi, profesionalitas, dan kemampuannya. 


Diakui Pebri ditempatkan di mana saja dia siap. “Awak siap mengabdi dimanopun nyo,  Bang...”


“Kalaulah kusuik baru ke awak ma...”


“Kalau lai aman aman ajo, urang nan buliah.”


Yang sabar ya datuk. Tak kan lari bumi itu dikejar.


Sebagai Datuk dengan gelar Datuk Seri Pebri Mahmud masyarakat  Kuantan Singingi berharap Pebri mampu menjaga kekompakan demi menjaga *marwah* daerah  (Kuantan Singingi).


Gelar Datuk untuk Pebri sebagai  Ketua Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (MKA LAMR) Kuantan Singingi diharapkan banyak memberikan kontribusi. 


Dari kacamata pribadi,  saya  melihat sebenarnya: orang awak (Kuantan Singingi)  kini marasa “tak bertuan”lagi di negeri sendiri.


Banyak pejabat hebat di Kuantan Singingi –  Banyak pejabat hebat yang bertugas di luar  Kuantan Singingi. 

Tapi  untuk mencari pejabat sekelas Sekda pun “terpaksa”  mengimpor dari luar.   Entah kepentingan apa dibalik itu. 


Apakah tidak ada lagi pejabat berkualitas seperti  Alm. Mohd. Ris Hasan,  Rasiman Rauf, Zulkifli, Muhamarman, Muharlius,  Dianto Mampanini , di Kuantan Singiungi ini  sehingga harus mendatangkan pejabat  dari luar…..?


Masih syukur  dari luar orang melihat Kuantan Singingi  kompak. Dua perhelatan (Pacu jalur dan Poprov) tahun 2022 sukses dilaksanakan. Itu membuktikan orang Kuantan Singingi itu kompak.


Kompak atau bergejolak ni…    terserahlah!


 Pujian EM


Kepiawaian pria bersahaja ini diakui oleh  Epi Martison. Seniman sejati dengan atribut koreografer (penata tari) terbaik Indonesia bahkan  Asia Tenggara “berdarah”Kuantan Singingi menyebut Datuk Seri Pebri Mahmud itu luar biasa.


Kepada sehabatnya yang juga Sekum IKKS Pekanbaru,  Arman Lingga, EM sapaan akrab seniman nyentrik ini mengatakan peran besar Datuk Pebri dalam menyukseskan Porprov Riau ke-10: 


“Luar biaso,  Bang Arman.”


“Kok dak ado Tuak Pebri yang mengawal ambo dak akan jadi tampialkan anak kemanakan kito do.”


“Datuak Pebri luar biaso, Bang.”


Lalu EM melanjutkan:  


“Datuak  Pebri sangat luar biasa mendampingi ambo memotivasi ambo, Bang.”


“ Tidak hanya bantuan moral dan spiritual tetapi juga banyak bantuan materi berupa *peminjaman* dana.  Padahal beliau tidak masuk panitia Porprov.  Beliau Plt. Kadis PU yang sangat disegani dan tompek barundiang Pak Plt, Bang.”


Tanpa bermaksud memuji,  pujian EM  kepada Pebri itu keluar dari  lubuk hati nuraninya yang paling dalam kepada Arman – kawan lama ketika aktif di IKKS Jakarta.


“Benar-benar nampak pentingnya peran Datuak Pebri, Bang”


“Sebagai Datuak penyelamat yang  setia berjuang untuk  menyelesaikan persoalan-persoalan  anak kemanakannyo di nogori kito (Kuantan Singingi).  


“Luar biasa perhatian Datuk Pebri terutama anak-anak penari massal kito,  Bang Arman.”

EM melanjutkan  meski di kepanitian,  Pebri  bukanlah siapa-siapa tapi kerjanya luar biasa. 


“Tak ado de, Bang Arman.”


“Datuk Pebri hanyo kebagian tukang manyalosai segalo urusan hajad sajonyo, Bang


“Luar biaso Tuak Pebri, Plt  Kadis PU yag baru ditunjuk  lansung berperang penyelesai nan kusuik merajuik di Kuantan Singingi.” 


Saya rasa, sebagai seniman yang sudah  melalang melintang EM tak bermaksud  membandingkan kerja Pebri dengan pejabat lainnya di Kuantan Singingi.  Tapi semangat, Pebri perlu ditiru. Dialah  sang “pemimpi”  itu sebenarnya.  


Arman Lingga hanya  berkomentar sedikit ketika diminta testimoninya tentang  Pebri:  


“Pebri adalah sang  pemimpi.”

“Pebri tahu  bagaimana cara mewujudkan mimpinya itu.”


“Mimpinya indah dan menjadi kenyataan.”


Bravo untuk  Datuk  Pebri….


“Selamat…!!!”

Minggu, 30 Oktober 2022

7 MACAM PERSAHABATAN

 *7 MACAM PERSAHABATAN, HANYA 1 SAMPAI AKHIRAT.*

.

1. "Ta'aruffan" persahabatan yg terjalin krn pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM & lainnya.

.

2. "Taariiihan" persahabatan yg terjalin krn faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama & sebagainya.

.

3. "Ahammiyyatan" persahabatan yg terjalin krn faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.

.

4. "Faarihan" persahabatan yg terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing & sebagainya.

.

5. "Amalan" persahabatan yg terjalin krn seprofesi, misalnya sama2 guru, dokter & sebagainya.

.

6. "Aduwwan" sahabat tetapi musuh, depan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, "Bila kamu memperoleh nikmat, ia benci, bila kamu tertimpa musibah, ia senang" (QS 3:120).

.

Rasulullah mengajarkan doa", Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyi tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan."


7. "Hubban Iimaanan", sebuah ikatan persahabat yg lahir batin, tulus saling cinta & sayang krn ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam2 dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya. Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya krn Allah Ta'ala.

.

Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 - 6 akan sirna di Akhirat. yg tersisa hanya ikatan persahabatan yg ke 7, persahabatan yg dilakukan krn Allah (QS 49:10),

"Teman2 akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yg lain kecuali persahabatan krn Ketaqwaan" (QS 43:67).

Jumat, 28 Oktober 2022

Peran Mahasiswa dalam Pembentukkan Kabupaten Kuantan Singingi

 *Soegianto Mundur, Ruchiyat  Mulai Melunak*


Bagian II dari 3 tulisan 


AKSI Himpunan Mahasiswa Pemuda Pelajar Mahasiswa Inhu (HIPPMI) yang tergabung  dalam Aliansi  Reformasi  Inhu (ARI) terhadap Pemkab Inhu rupanya  membawa perubahan besar dalam dunia perpolitikan di kabupaten Inhu.


Tuntutan ARI  direspon.  Ketua DPRD Inhu dari Fraksi TNI/Polri SOEGIANTO  mundur dari jabatannya. Bupati Inhu Ruchiyat Saefuddin mulai bersih-bersih di Bumi Gerbangsari itu.


ARI lega, salah satu tuntutan mereka dipenuhi.   ARI melakukan syukuran sederhana di  Wisma Narasinga, tempat mereka menginap.  Cukup dengan nasi ramas yang sengaja dibeli oleh  SYARIFUL  ADNAN alias JANG HITAM dengan Honda Tornado BM 5184 BB. 


Ternyata nasi yang dibeli JANG HITAM ini kurang, NUZUL  dengan astrea star BM 5132 AA membeli nasi tambahan di rumah makan di Jl. Beringin – Gobah.  Bagi mahasiswa nasi bungkus waktu itu sudah mewah. Sebab, di Wisma NARA SINGA mereka hanya makan Indomie dan buah papaya yang ada di belakang wisma tersebut.  


Fara Dangka alias GEPENG– mahasiswa UNRI asal PANGIAN yang sering mencuri buah papaya itu bersama Jang Hitam untuk dimakan. Begitu susahnya  perjuangan waktu itu walau setiap malam tidur di kasur empuk Wisma Nara Singa.  


Soegianto digantikan oleh  SUDIRMAN M. KASS, BA dari Partai Golkar.  Pria berpenampilan sederhana kelahiran Sentajo ini,  mendapat dukungan penuh dari  anggota DPRD Inhu, terutama yang berasal  kecamatan calon  Kabupaten Kuantan Singingi.


Sudirman M.Kass punya andil besar dalam mendukung perjuangan  Kuantan Singingi  menjadi Kabupaten.  Bersama anggota DPRD Inhu asal  Kuantan Singingi lainnya seperti Sukarmis,  H. Mansyur Furdi, Drs. H. Syariful Anwar,  Syaifullah Arianto alias Yan Tembak dan lainnya.  Mereka memperjuangkan  Kuantan Singingi jadi  Kabupaten.  Dan,  perjuangan mereka  tidak sia-sia.  


*YAN TEMBAK* termasuk  wakil rakyat yang paling vokal memperjuangkan terbentuknya  Kuantan Singingi sebagai  Kabupaten. Saking vokalnya, oleh rekan-rekannya sesame anggota DPRD dia digelari SINGA  KUANTAN.  Aumannya keras, bicaranya lantang, ceplas ceplos, dan tanpa tending alang-aling.   


Ibarat sendiwara, Yan Tembak adalah PAMERAN UTAMA  dengan Sudirman M. KASS dan Syariful  Anwar sebagai SUTRADARA dan ASISTEN SUTRADARA.  Mereka menguasai “panggung” DPRD Inhu kala itu. Mungkin factor umur yang masih muda, darah mudanya selalu bergejolak.


Kevokalan Yan Tembak sulit ditandingi. Sayang tak banyak di antara wartawan yang berani mengutip pendapatnya untuk dimuat di media tempat mereka bekerja.   


Seorang teman perjuangan semasa di ARI mengibaratkan  Yan tembak  sekarang seperti ROCKY GERUNG yang berani mengeritik pemerintahan JOKOWI dengan jargon DUNGU-nya yang sangat terkenal itu. 


Darah politik  memang mengalir dalam diri Yang Tembak – terutama dari  orang tuanya.  Ayah Yan Tembak  ketika masih hidup tidak pernah lepas dari radio.  Bahkan diusia tuanya, radio itu menjadi teman akrabnya selain cucunya sendiri.  Bagi kami, orang tua Yan Tembak ibarat kamus berjalan, dia tau perkembangan dunia karena rajin mendengar radio.


Kendati pendengarannya sudah mulai berkurang karena factor “U”,  radio kesayanganya itu selalu menempel dekat telinga orang tua Yan Tembak itu. Saya pernah menyaksikan itu.



*Ruchiyat melunak* 


Lalu bagaimana dengan  sang Bupati RUCHIYAT SAEFUDDIN,  ketika Soegianto mundur, dia mulai melunak.  Pernyataan di media cetak pun mulai melunak. Tak segarang ketika menanggapi aksi ARI waktu demo. Tak ada lagi  pernyataan  Ruchiyat yang menyebut:  AKSI MAHASISWA LEBIH DASYAT DARI DESINGAN PELURU.


Pimpinan  Redaksi  SERANTAU  terbitan Pekanbaru, INDRASAL  menulis satu halaman penuh tentang  tanggapan Ruchiyat  terkait aksi demo yang dilakukan mahasiswa yang tergabung dalam ARI tersebut.  Indrasal adalah birokrat  di UNRI Pekanbaru dan wartawan senior yang pernah dimiliki  Kuansing.


Lahir di Desa Pulau Aro, Kecamatan Kuantan Tengah tahun 1958. Indrasal meninggal mendadak beberapa tahun lalu  kena serangan  jantung di tempat dia mengabdi di Kampus UNRI Panam Pekanbaru. 


Selain  Indrasal, wartawan yang sering  memberitakan perjuangan pembentukan  Kabupaten Kuantan Singingi adalah  URDIANTO asal  Paboun, Kecamatan Kuantan Mudik.    APRIADI (Ketua Ikatan Pemuda Mahasiswa Kuantan Singingi) dan  MARDIANTO MANAN alias MM sering menjadi langganannya menjadi narasumber dikalangan mahasiswa dan pemuda.  


MM adalah narasumber yang pendapatnya selalu muncul di harian Pekanbaru Pos.  Sayang pernyataan MM itu seringkali tak dimuat karena sipembuat berita ketakutan pimpinan media tempat dia bekerja tak akan memuatnya.   


Saya  mengibaratkan MM dulu seperti KAMARUDDIN SIMANJUNTAK, panasehat Hukum JOSHUA dalam kasus SAMBO.   Urat  takutnya sudah hilang.  Kata JANG HITAM -  MM hanya takut pada seseorang  yang saat itu masih kuliah di UGM JOGJA  yang sekarang menjadi istrinya. 


MM juga tanpa takut juga mengkritisi Ruchiyat.  Bersama “Tentara” IPERPA  Jang Hitam,  Nardi T Usman,  Marwan Wan Palosu, Budi  Pulau Dore,  Gepeng mereka  membakar rumah bordil di PANGIAN.  


MM dulu dengan sekarang tak jauh beda.  Berat badanya dari dulu sekitar 50 Kg.  Cuma rambutnya yang mulai beruban seiring usianya yang sudah bekepala 5.


Pernyataan MM,  Yan Tembak dan tokoh masyarakat Inhu yang tergabung dalam  FKTC rupanya membuat Ruchiyat luluh juga. Besi kalau sudah kena api akan hancur juga.

 

Ruchiyat pernah memberikan bantuan untuk perjuangan kepada   FKTC  Inhu di Pekanbaru uang senilai Rp 1 juta yang dititip sama BUSTAMAM ALI. Mungkin karena kesibukan Pak Bustamam belum sempat menyerahkan bantuan itu  sama Bpk ABBAS  JAMIL selaku Ketua FKTC Inhu.  


HELFIAN HAMID  waktu menyerahkan dulu uang pribadinya pada Abbas Jamil.  Apakah uang Helfian itu diganti oleh Bustamam Ali?  Saye pun tidak tahu karena dia bertugas di Kab Inhu sebagai Kadis Peternakan.  



Honda Wing Bang Bakar


Dalam buku sejarah Pembentuan  Kuantan yang saya baca, namanya tenggelam.  Padahal dalam surat surat yang dikirim panitia pemekaran Kabupaten Kuansing dari Pekanbaru nama beliau tercantum dalam deretan surat yang dikirim ke Inhu.  


Melalui ABUBAKAR - PNS  Inhu yang bertugas di mess Inhu di Gobah, surat untuk pejabat Inhu asal  Kuantan Singingi dititip.   Bang Bakar asal  Desa Tebarau Panjang ini dengan setia mengantar dan menitip surat melalui travel atau pegawai Inhu  yang pulang ke Rengat. 


Honda Wing Bang Bakar lah yang menjadi saksi semua itu, Wing itu pula sering dipinjam M. DUNIR mahasiswa IAIN asal  Kecamatan Kuantan Mudik ketika mengantar surat. Dunir pernah menjadi anggota DPRD Riau dari PKB.  Jika Honda  Jang Hitam dan  Nuzul  dipakai atau rusak, Honda Wing Bang Bakarlah yang sering dipinjam untuk mengantar surat. 


Bang Bakar juga sering menjadi “korban”  kejahilan kedua orang ini.  Hondanya dipinjam, duitnya juga diminta  untuk beli bensin dan nasi bungkus.  Tapi Bang Bakar tetap tersenyum.  “Saya mau marah sebenarnya tapi melihat kalian taka da duit saya tak tega juga,”  begitulan selalu Bang Bakar menasehati mahasiswa yang sering minjam Honda Wingnya.  


Bang Bakar,  jasamu tak mungkin dilupakan. Walau namamu tak ada dalam buku sejarah Kuansing itu.


Kenapa hanya Mahdili, Sudirman M.Kass,  Bustamam Ali, Sukarmis, Mansyur Furdi, Syariful Anwar  dan lainnya yang masuk dalam buku itu dari Inhu…………?


Rasanya hati ini sedikit terobati di deretan pendiri masih tercantum nama Drs. RAFLES  dan SUHENDRI - PNS di Kantor Bangdes Riau dan Kantor Gubernur Riau yang secara sukarela menyisihkan gajinya untuk kami setiap mengantar surat ke kantornya. 


Walau jumlahnya tak seberapa - tapi bagi kami sangat berarti untuk beli nasi ramas di jl. Beringin tak jauh  dari  Kandep P dan K  Pekanbaru  yang merupakan secretariat dari pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi.


Rafles asal Desa  Teratak Air Hitam adalah Arsiparis terbaik dan mungkin masih menyimpan data perjuangan  pendirian Kabupaten  Kuanan Singingi  hingga kini.   Dari kantor beliau juga  banyak sumbangan kertas untuk print surat undangan. 


Yang menyusun  buku sejarah pendirian Kuantan Singingi sebagai kabupaten jangan lupakan sejarah-  jangan karena orang itu pernah oposisi dengan Bupati  Kuantan Singingi masa lalu seperti dengan H. Sukarmis dan Mursini peran mereka dilupakan…. (bersambung…)

Sumber:

WAG LAMR-KS, dishare atas izin Urdianto Paboun

Ini Sumpahku Mana Sumpah Mu

 

Nenek Moyang orang Kuantan dan Singingi bersumpah "Tobiang ditingkek dengan Jonji, Koto dirambah jo mufakat", maka berdirilah nogori-nogori di sepanjang aliran Sungai Kuantan dan Sungai Singingi, yang keberadaannya diakui oleh negeri/nogori yang lain.

Tahun 1258 Saka (1336 M), Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkhubumi Majapahit, maka meluaslah kekuasaan Majapahit seluas wilayah Nusantara.

28 Oktober 1928, Putra dan Putri Indonesia Bersumpah dengan "Sumpah Pemuda" nya, maka 17 tahun kemudian berdiri sebuah negara "INDONESIA".

Hari ini genap 94 Tahun Sumpah Pemuda,
Mari masing-masing diri penghuni negeri ini untuk "bersumpah dan berdoa" untuk kebaikan negeri ini..

Sebagai catatan kecil, ketika saya dikukuhkan sebagai Ketua Umun MKA LAMR Kabupaten Kuantan Singingi dengan gelar adat Datuk Seri Amanah Adat, 09 Oktober 2019 yang lalu,
Saya juga bersumpah dan berdoa, dan hari ini saya sampaikan kembali Sumpah dan doa Saya tersebut,

Hari ini Rabu sembilan Oktober Tahun dua ribu sembilan belas,
Saya bersumpah...
Atas nama tanah tempat kami berpijak,
Atas nama air yang tidak lagi jernih,
Atas nama angin nan basiru,
Atas nama ombak nan badabuah,
Atas nama sungai yang sudah rusak binasa,
Atas nama Rimbo Ulayat yang tidak lagi kami dikuasai,
Atas nama Hutan yang sudah dirambah ilegal loging,
Atas nama orang-orang yang masih tulus,

Hari ini mulut kami dikunci,
Andaikan bicara tak akan didengar,

Tangan kami tak mampu diangkat,
Mencegah Anak negeri yang berbuat zalim,

Kaki kami tak mampu melangkah,
Menindak orang-orang yang merusak,
Merusak tatanan negeri ini.

Kami hanya diam dan membisu,
Dalam diam bathin bergoncang,

Air mata ini sudah kering menangisimu,
Hati ini sudah tak sanggup lagi merintih,
Tersayat-sayat sembilu zaman,

Oh angin nan basiru....
Berilah peringatan atas kehendak Tuhan Mu,

Oh tanah nan dilambang....
Berilah peringatan atas kehendak Tuhan Mu,

Oh ombak nan badabuah....
Berilah peringatan atas kehendak Tuhan Mu,

Oh awan nan batumpak....
Berilah peringatan atas kehendak Tuhan Mu,

Oh cewang nan dilangik....
Berilah peringatan atas kehendak Tuhan Mu,

Oh Tuhan Penguasa Alam...
Gerakkan hati penghuni negeri ini..
Untuk kebaikan dan kebenaran...

Wahai Tuhan Pemilik Kekuasaan...
Hadirkan kepada kami kekuasaan yang mengayomi..

Auditorium Tribuana, SMAN Pintar Teluk Kuantan 09102019.

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA ke-94
28 Oktober 1928 - 28 Oktober 2022

Peran Mahasiswa dalam Pembentukkan Kabupaten Kuantan Singingi

 
Bagian I dari 3 tulisan

HIMPUNAN Mahasiswa Pemuda Pelajar Mahasiswa Inhu (HIPPMI) yang tergabung  dalam Aliansi  Repormasi  Inhu (ARI) ikut memperjuangkan pembentukkan  Kabupaten Kuantan Singingi. Perjuangan ini  bermula dengan melakukan aksi demontrasi ke  kantor DPRD  dan Bupati Inhu di PEMATANG REBA – yang terletak 20 Km dari Kota RENGAT.

Sebelum berangkat  dibentuk dulu Korlap masing-masing kecamatan agar aksi demo tidak anarkis.  Korlap itu di antaranya  Sandi (Kuantan Tengah),  Yudi (Singingi),  Apriadi  (Benai), Marsanul (Kuantan Mudik),  Rizaluddin (Cerenti),  Marwan (Pangian), Sumra Hardi (Peranap), Syaicu Indra (Pasir Penyu)  dan M. Zafir (Rengat).

Berangkat dari Pekanbaru  pukul 17.00 WIB dengan menggunakan 7 bus sewaan dari Kampus  UNIVERSITAS RIAU di GOBAH, Pekanbaru melalui jalur lintas timur.  Dana  keberangkatan dibantu oleh birokrat dan pengusaha asal Kabupaten Inhu yang bertugas di Pekanbaru yang mendukung perjuangan ARI.

Sebelum sampai di  Pematang Rebah, rombongan ARI singga makan dulu makan siang di Air Molek.  Jam 07.00 WIB, ARI    sampai di PEMATANG REBAH.

Tampak sempat mandi pagi, apalagi gosok gigi. Hanya bermodalkan cuci muka  di  halaman Kantor DPRD Inhu pukul 08.00 s.d 10.00 WIB, ARI melakukan orasi.  Mereka diterima Ketua  DPRD Inhu  SOEGIANTO  dari Fraksi TNI/Polri dan Bupati Inhu Letkol Inf. RUCHIYAT  SAEFUDDIN.

Dalam orasinya  koordinator ARI,  Drs. EDI AHMAD RM meminta:
1.    Bupati Inhu  untuk  membebaskan Kolusi dan Korupsi  (KKN)  dari Inhu
2.    Menurunkan SOEGIANTO dari  Ketua DPRD Inhu
3.    Mendukung   Pemekaran  Kuatan Singingi  sebagai kabupaten.

Usai Edi Akhmad melakukan orasi,    MARWAN,  Mahasiswa  Fakultas Pertanian  Universitas Islam Riau (UIR) Pekanbaru  asal Kecamatan Pangian membaca puisi. Pusinya  berjudul  “RUCHIYAT  SAEFUDDIN.”  

Puisi  itu berisi kritikan pedas  terhadap  kepemimpinan  Ruchiyat  yang diduga sarat KKN selama dua  periode memimpin Inhu.  Marwan tampak berapi-api menyampaikan puisinya.

Mata Ruchiyat tampak berkaca-kaca.   Raut mukanya merah padam.  Dia menahan emosi.  Usai demo di halaman DPRD Inhu  beberapa mahasiwa  pergi ke belakang kantor DPRD Inhu.  

Di sini  ditemukan bambu runcing, pentolan kayu, parang, dan mercon yang siap untuk menghadang ARI jika melakukan aksi anarkis.  Temuan ini  kemudian diamankan oleh  aparat kepolisian dari Polres Inhu.

Setelah aksi demo  di  halaman  kantor DPRD Inhu, ARI melakukan aksi serupa di halaman kantor  Bupati Inhu pukul 11.00 s.d 12.00 WIB. Berjarak  200 meter dari kantor DPRD Inhu. Di sini  ARI tampak diprovokasi  oleh oknum yang tak bertanggungjawab agar masuk ke dalam kantor Bupati Inhu.

Mahasiswa yang terprovokasi  berusaha masuk. Namun dihalangi oleh  aparat  keamanan dan  petugas pengamanan  kantor Bupati Inhu.

Anggota DPRD Inhu dari  Golkar asal Kecamatan Kuantan Tengah, H. SUKARMIS  memberikan peringatan kepada ARI agar tidak melakukan tindakan anarkis. Dalam suasana kacau itu  beberapa  mahasiswa di antaranya SYAICU INDRA asal  dari Air Molek, Kecamatan Pasir Penyu  mengalami  luka lecet di lengannya karena kena pentolan petugas.  

Begitu juga dengan GEPENG mahasiswa UNRI asal  Pangian yang bernama asli FARE DANGKA ini luka lecet pada wajahnya.  SYARIFUL ADNAN alias JANG ITAM  mahasiswa IAIN dari Kecamatan Pangian berhasil melarikan diri sehingga terhindar dari pukulan petugas keamanan.  Begitu juga dengan  APRIADI mahasiswa Unri  yang akrab disapa PHILIP  BENAI karerna berasal dari Kecamatan Benai mengalami luka yang cukup serius.

Sambil bergurau  JANG HITAM mengatakan, “orang itu tidak tahu saya ini dari Pangian.  Semua orang tau silat Pangian itu sudah terkenal sampai  belahan dunia. Sekali langkah saya bisa mengelak.  Kecillah itu….”ujar Jang Hitam percaya diri.   

JANG HITAM yang  juga dijuluki tentara IPERPA ini memang terkeal  dengan keluguan dan  keceriannya.   Senyum saja, orang sudah ketawa - apalagi kalau sudah bicara. Bagian  Jang Hitam yang posturnya mirip dengan Mike Tyson dan berkulit hitam mengkilat  dunia ini ibarat daun kelor.  “Keciiiiiil.”
 
Usai demo di kantor  Bupati pukul 12,00 WIB mahasiswa  mengelilingi Kota RENGAT  dan selanjutnya pulang ke PEKANBARU melalui lintas barat.  Sampai di TELUKKUANTAN pukul 15.00 WIB, rombogan ARI ini  mendapat kawalan ketat  dari beberapa orang pemuda di antaranya RUSTAM EFENDI agar tidak melakukan tindakan anarkis di pasar Telukkuantan.  

Namun ketika sampai di sungai  Jering, ARI melakukan aksi spontan membakar  rumah tempat prostitusi,  tepatnya di kebun karet  milik SENSUI (sekarang di belakang kantor PN Telukkuantan).  

Wanita-wanita penghibur lari berhamburan. Begitu juga tetamu hidung belang  yang sedang santai  menikmati  indahnya dunia bersama wanita penghibur tersebut. Sementara germo tampak membisu  dan melongo karena aksi pembakaran itu dilakukan secara spontan dan tiba-tiba.

Usai melakukan aksi pembakaran itu, rombongan mahasiwa ini lalu berangkat ke Pekanbaru.   Mereka sampai  sekitar pukul 20.00 WIB langsung menginap di WISMA NARA SINGA di Jl. Diponegoro   yang sebelumnya sudah diduduki oleh mahasiswa Inhu.

Beberapa  hari kemudian  Forum Komunikasi Tokoh Cendikawan (FKTC) Inhu memanggil peserta aksi di kediaman  Raja Rusli di Gobah.  Di sinilah   Ketua FKTC  Kolonel (Purn) H. ABBAS JAMIL menumpahkan kemarahannya kepada  Bupati  Inhu RUCHIYAT SAEFUDDIN  karena pelakuan yang diterima oleh anak-anak mahasiswa.

Dengan suara bergetar, Abbas Jamil marah. “Saya Abbas Jamil  KOLONEL senior merasa tersinggung dengan perlakuan yang diterima anak-anak saya.”

Abbas jamil  menyebut nama  yuniornta Letkol (Inf) Ruchiyat Saefuddin   dengan kalimat terbata-bata. Abas Jamil tampak  tak kuasa manahan emosi. Ketika itu suasana hening. Tidak ada yang menduga Abbas Jamil marah seperti  singa kelaparan di padang pasir itu.

Kemarahan  Abbas Jamil itu  merupakan puncak pemberitaan usai ARI melakukan aksi demo beberapa media cetak di  Pekanbaru.  Ruchiyat yang menyebut aksi demo itu diduga didalangi oleh oknum yang tak merasa senang dengan dirinya selama memimpin Inhu.

Waktu itu Ruchiyat digadang-gadang sebagai salah seorang  calon Gubernur Riau yang bakal menggantikan  SOERIPTO yang akan habis masa jabatan di periode keduanya sebagai GUBERNUR RIAU.

Ruchiyat menyebut aksi mahasiswa itu lebih keras dari desingan peluru itu membuat  tokoh masyarakat  Inhu di Pekanbaru tersinggung.  Mereka mengatakan  Ruchiyat ibarat cacing kepanasan dan tidak mendukung aksi reformasi yang tengah diperjuangan mahasiswa di seluruh Indonesia.

Kemudian  setelah pernyataan tersebut  muncul di media,   dr. H. TABRANI RAB dalam  kolomnya di surat Kabar MINGGUAN GeNTA Pekanbaru menulis:  Bupati  MBA   (Makin Bengak Aje).  Dalam tulisannya yang cukup tajam,  Tabrani mengkritisi   Bupati Inhu  Ruchiyat Saefuddin yang dinilainya tidak mendukung  aksi   repormasi yang dilakukan oleh   mahasiswa.  (bersambung…………………..)

Pentolan mahasiswa peserta aksi:

Asal Kuansing
1.    Apriadi   - UNRI
2.    Syariful Adnan IAIN
3.    Nuzul IAIN
4.     Rizaluddin - UNRI
5.    Herman Susilo - UNRI
6.    Nardi T Rusman - UIR
7.    Aprizon -  UNRI
8.    Marwan  -  UIR
9.    Amril Mukminin - UNRI
10.    Albert  Susanto – UIR
11.      Erda   (UNRI)
12.     Fadilah  (Unri)
13    Fare Dangka  alias Gepeng (UNRI)
14.    M. Dunir – IAIN
15.     Musliadi  - IAIN
16.   Sandi (Unri)
17.   Marsanul  (UNRI)
18.   Yudi (UNRI)
19.   Dll

Asal Inhu
1.    Sumra Hardi  (UNRI)
2.    Dozi Siswanto   (IAIN)
3.    Dedi  Noviandra (UIR)
4.    Dedi  Susanto (UNRI)
5.    M. Rafik (UIR)
6.    M. Zafir  (IAIN)
7.    Syaicu Indra (UIR)
8.    Yulisman BI (UNRI)
9.      Dan lainnya            

Senior dari kalangan pemuda
1.    Drs. Edi Ahmad RM (Wartawan Riau Pos)
2.    Drs. Elmustian Rahman (Dosen Unri)
3.    Dr.  Aras Mulyadi, DEA (Dosen Unri)
4.    Drs. Seno, M.Pd (Dosen UIR)
5.    Ir. Mardianto Manan , M.T  (alumni UGM)
6.    Maswito  -Alumni UNRI
7.    Urdianto Paboun (wartawan Tanjungpinang Pos)
8.      Suhardiman (Alumni UNRI)
9.      Sumra Hardi  (Alumni Unri)

 *Soegianto Mundur, Ruchiyat  Mulai Melunak*


Bagian II dari 3 tulisan 

AKSI Himpunan Mahasiswa Pemuda Pelajar Mahasiswa Inhu (HIPPMI) yang tergabung  dalam Aliansi  Reformasi  Inhu (ARI) terhadap Pemkab Inhu rupanya  membawa perubahan besar dalam dunia perpolitikan di kabupaten Inhu.


Tuntutan ARI  direspon.  Ketua DPRD Inhu dari Fraksi TNI/Polri SOEGIANTO  mundur dari jabatannya. Bupati Inhu Ruchiyat Saefuddin mulai bersih-bersih di Bumi Gerbangsari itu.


ARI lega, salah satu tuntutan mereka dipenuhi.   ARI melakukan syukuran sederhana di  Wisma Narasinga, tempat mereka menginap.  Cukup dengan nasi ramas yang sengaja dibeli oleh  SYARIFUL  ADNAN alias JANG HITAM dengan Honda Tornado BM 5184 BB. 


Ternyata nasi yang dibeli JANG HITAM ini kurang, NUZUL  dengan astrea star BM 5132 AA membeli nasi tambahan di rumah makan di Jl. Beringin – Gobah.  Bagi mahasiswa nasi bungkus waktu itu sudah mewah. Sebab, di Wisma NARA SINGA mereka hanya makan Indomie dan buah papaya yang ada di belakang wisma tersebut.  


Fara Dangka alias GEPENG– mahasiswa UNRI asal PANGIAN yang sering mencuri buah papaya itu bersama Jang Hitam untuk dimakan. Begitu susahnya  perjuangan waktu itu walau setiap malam tidur di kasur empuk Wisma Nara Singa.  


Soegianto digantikan oleh  SUDIRMAN M. KASS, BA dari Partai Golkar.  Pria berpenampilan sederhana kelahiran Sentajo ini,  mendapat dukungan penuh dari  anggota DPRD Inhu, terutama yang berasal  kecamatan calon  Kabupaten Kuantan Singingi.


Sudirman M.Kass punya andil besar dalam mendukung perjuangan  Kuantan Singingi  menjadi Kabupaten.  Bersama anggota DPRD Inhu asal  Kuantan Singingi lainnya seperti Sukarmis,  H. Mansyur Furdi, Drs. H. Syariful Anwar,  Syaifullah Arianto alias Yan Tembak dan lainnya.  Mereka memperjuangkan  Kuantan Singingi jadi  Kabupaten.  Dan,  perjuangan mereka  tidak sia-sia.  


*YAN TEMBAK* termasuk  wakil rakyat yang paling vokal memperjuangkan terbentuknya  Kuantan Singingi sebagai  Kabupaten. Saking vokalnya, oleh rekan-rekannya sesame anggota DPRD dia digelari SINGA  KUANTAN.  Aumannya keras, bicaranya lantang, ceplas ceplos, dan tanpa tending alang-aling.   


Ibarat sendiwara, Yan Tembak adalah PAMERAN UTAMA  dengan Sudirman M. KASS dan Syariful  Anwar sebagai SUTRADARA dan ASISTEN SUTRADARA.  Mereka menguasai “panggung” DPRD Inhu kala itu. Mungkin factor umur yang masih muda, darah mudanya selalu bergejolak.


Kevokalan Yan Tembak sulit ditandingi. Sayang tak banyak di antara wartawan yang berani mengutip pendapatnya untuk dimuat di media tempat mereka bekerja.   


Seorang teman perjuangan semasa di ARI mengibaratkan  Yan tembak  sekarang seperti ROCKY GERUNG yang berani mengeritik pemerintahan JOKOWI dengan jargon DUNGU-nya yang sangat terkenal itu. 


Darah politik  memang mengalir dalam diri Yang Tembak – terutama dari  orang tuanya.  Ayah Yan Tembak  ketika masih hidup tidak pernah lepas dari radio.  Bahkan diusia tuanya, radio itu menjadi teman akrabnya selain cucunya sendiri.  Bagi kami, orang tua Yan Tembak ibarat kamus berjalan, dia tau perkembangan dunia karena rajin mendengar radio.


Kendati pendengarannya sudah mulai berkurang karena factor “U”,  radio kesayanganya itu selalu menempel dekat telinga orang tua Yan Tembak itu. Saya pernah menyaksikan itu.


*Ruchiyat melunak* 

Lalu bagaimana dengan  sang Bupati RUCHIYAT SAEFUDDIN,  ketika Soegianto mundur, dia mulai melunak.  Pernyataan di media cetak pun mulai melunak. Tak segarang ketika menanggapi aksi ARI waktu demo. Tak ada lagi  pernyataan  Ruchiyat yang menyebut:  AKSI MAHASISWA LEBIH DASYAT DARI DESINGAN PELURU.


Pimpinan  Redaksi  SERANTAU  terbitan Pekanbaru, INDRASAL  menulis satu halaman penuh tentang  tanggapan Ruchiyat  terkait aksi demo yang dilakukan mahasiswa yang tergabung dalam ARI tersebut.  Indrasal adalah birokrat  di UNRI Pekanbaru dan wartawan senior yang pernah dimiliki  Kuansing.


Lahir di Desa Pulau Aro, Kecamatan Kuantan Tengah tahun 1958. Indrasal meninggal mendadak beberapa tahun lalu  kena serangan  jantung di tempat dia mengabdi di Kampus UNRI Panam Pekanbaru. 


Selain  Indrasal, wartawan yang sering  memberitakan perjuangan pembentukan  Kabupaten Kuantan Singingi adalah  URDIANTO asal  Paboun, Kecamatan Kuantan Mudik.    APRIADI (Ketua Ikatan Pemuda Mahasiswa Kuantan Singingi) dan  MARDIANTO MANAN alias MM sering menjadi langganannya menjadi narasumber dikalangan mahasiswa dan pemuda.  


MM adalah narasumber yang pendapatnya selalu muncul di harian Pekanbaru Pos.  Sayang pernyataan MM itu seringkali tak dimuat karena sipembuat berita ketakutan pimpinan media tempat dia bekerja tak akan memuatnya.   


Saya  mengibaratkan MM dulu seperti KAMARUDDIN SIMANJUNTAK, panasehat Hukum JOSHUA dalam kasus SAMBO.   Urat  takutnya sudah hilang.  Kata JANG HITAM -  MM hanya takut pada seseorang  yang saat itu masih kuliah di UGM JOGJA  yang sekarang menjadi istrinya. 


MM juga tanpa takut juga mengkritisi Ruchiyat.  Bersama “Tentara” IPERPA  Jang Hitam,  Nardi T Usman,  Marwan Wan Palosu, Budi  Pulau Dore,  Gepeng mereka  membakar rumah bordil di PANGIAN.  


MM dulu dengan sekarang tak jauh beda.  Berat badanya dari dulu sekitar 50 Kg.  Cuma rambutnya yang mulai beruban seiring usianya yang sudah bekepala 5.


Pernyataan MM,  Yan Tembak dan tokoh masyarakat Inhu yang tergabung dalam  FKTC rupanya membuat Ruchiyat luluh juga. Besi kalau sudah kena api akan hancur juga.

 

Ruchiyat pernah memberikan bantuan untuk perjuangan kepada   FKTC  Inhu di Pekanbaru uang senilai Rp 1 juta yang dititip sama BUSTAMAM ALI. Mungkin karena kesibukan Pak Bustamam belum sempat menyerahkan bantuan itu  sama Bpk ABBAS  JAMIL selaku Ketua FKTC Inhu.  


HELFIAN HAMID  waktu menyerahkan dulu uang pribadinya pada Abbas Jamil.  Apakah uang Helfian itu diganti oleh Bustamam Ali?  Saye pun tidak tahu karena dia bertugas di Kab Inhu sebagai Kadis Peternakan.  

Honda Wing Bang Bakar

Dalam buku sejarah Pembentuan  Kuantan yang saya baca, namanya tenggelam.  Padahal dalam surat surat yang dikirim panitia pemekaran Kabupaten Kuansing dari Pekanbaru nama beliau tercantum dalam deretan surat yang dikirim ke Inhu.  


Melalui ABUBAKAR - PNS  Inhu yang bertugas di mess Inhu di Gobah, surat untuk pejabat Inhu asal  Kuantan Singingi dititip.   Bang Bakar asal  Desa Tebarau Panjang ini dengan setia mengantar dan menitip surat melalui travel atau pegawai Inhu  yang pulang ke Rengat. 


Honda Wing Bang Bakar lah yang menjadi saksi semua itu, Wing itu pula sering dipinjam M. DUNIR mahasiswa IAIN asal  Kecamatan Kuantan Mudik ketika mengantar surat. Dunir pernah menjadi anggota DPRD Riau dari PKB.  Jika Honda  Jang Hitam dan  Nuzul  dipakai atau rusak, Honda Wing Bang Bakarlah yang sering dipinjam untuk mengantar surat. 


Bang Bakar juga sering menjadi “korban”  kejahilan kedua orang ini.  Hondanya dipinjam, duitnya juga diminta  untuk beli bensin dan nasi bungkus.  Tapi Bang Bakar tetap tersenyum.  “Saya mau marah sebenarnya tapi melihat kalian taka da duit saya tak tega juga,”  begitulan selalu Bang Bakar menasehati mahasiswa yang sering minjam Honda Wingnya.  


Bang Bakar,  jasamu tak mungkin dilupakan. Walau namamu tak ada dalam buku sejarah Kuansing itu.


Kenapa hanya Mahdili, Sudirman M.Kass,  Bustamam Ali, Sukarmis, Mansyur Furdi, Syariful Anwar  dan lainnya yang masuk dalam buku itu dari Inhu…………?


Rasanya hati ini sedikit terobati di deretan pendiri masih tercantum nama Drs. RAFLES  dan SUHENDRI - PNS di Kantor Bangdes Riau dan Kantor Gubernur Riau yang secara sukarela menyisihkan gajinya untuk kami setiap mengantar surat ke kantornya. 


Walau jumlahnya tak seberapa - tapi bagi kami sangat berarti untuk beli nasi ramas di jl. Beringin tak jauh  dari  Kandep P dan K  Pekanbaru  yang merupakan secretariat dari pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi.


Rafles asal Desa  Teratak Air Hitam adalah Arsiparis terbaik dan mungkin masih menyimpan data perjuangan  pendirian Kabupaten  Kuanan Singingi  hingga kini.   Dari kantor beliau juga  banyak sumbangan kertas untuk print surat undangan. 


Yang menyusun  buku sejarah pendirian Kuantan Singingi sebagai kabupaten jangan lupakan sejarah-  jangan karena orang itu pernah oposisi dengan Bupati  Kuantan Singingi masa lalu seperti dengan H. Sukarmis dan Mursini peran mereka dilupakan…. (bersambung…)

Sumber: 

WA Group Pengurus LAMR-KS, Diteruskan dari Tulisan Dedi Harisandi, dishare Atas Seizin Urdianto Paboun

Rabu, 26 Oktober 2022

CATATAN PERJALANAN DALAM MENEGAKKAN ADAT DAN LEMBAGA

Mulonyo bonto kan talopak
Dek ulah pandan nan badaun
Bamulo catatan kan dibukak
Disusun jari mintak ampun

Talotak Puntiang di ulu
Dibawah kumparan tali
Asal mulo kato dahulu
Tigo limbago nan tajadi
Partamo sombah manyombah
Kaduo siriah jo pinang
Katigo baso jo basi

Bermula perjalanan menegakkan Lembaga Adat Melayu Riau Kuantan Singingi yaitu nya bincang-bincang ringan dengan Datuk Yusman Hakim (Pengurus LAMR) di Rumah Makan Ikan Bakar di Kebun Lado Singingi. Dihadiri oleh Hardimansyah Dt. Gonto Sambilan, Imrialis, Yusman Hakim dan Pebri Mahmud pada hari Sabtu, 9 Maret 2019. Pertemuan itu membahas perkembangan LAMR Kuansing yang sudah 1,5 tahun vakum pasca terpilihnya Abrinal Dt. Lenggang sebagai Ketua Umum MKA dan Sardiyono sebagai Ketua Umum DPH dalam Musdalub LAMR Kuantan Singingi pada Maret 2018. Pada saat itu Yusman Hakim selaku Plt. Ketua LAMR Kuansing menjelaskan perkembangan LAMR Kuansing pasca Musyda, berdasarkan evaluasi dari Pengurus LAM Riau, ketua umum MKA terpilih harus dievaluasi dan diganti secara patut, karena Ketua MKA terpilih tidak mampu memperlihatkan itikad baik dalam mengembangkan LAMR Kuansing. Namun karena banyak agenda besar yang tengah dihadapi masyarakat, Yusman Hakim meminta untuk mencari pengganti Abrinal selaku Ketua MKA yang akan diproses pasca pemilu dan idul fitri.

Koordinasi dan komunikasi terus dibangun Oleh Hardimansyah Dt. Gonto Sambilan dan Imrialis dengan para pemuka-pemuka adat dan Ketua LAMR Kecamatan se-Kabupaten Kuantan Singingi. Pada awal Juni 2019, Hardimansyah Dt. Gonto Sambilan menyampaikan kepada saya, bahwa datuk-datuk ketua LAMR kecamatan Se Kuantan Singingi menginginkan saya sebagai Ketua MKA LAMR Kuantan Singingi pengganti Abrinal Dt. Lenggang. Saya pun terdiam dengan tawaran mereka, dan saya meminta untuk mencari tokoh lain karena saya masih muda belum sepatutnya untuk menjadi Ketua Majelis Kerapatan Adat.

Pada hari kamis tanggal 6 Juni 2019, Suherman Dt. Penghulu Sutan (Ketua LAMR Kecamatan Benai) menemui saya di kantor PUPR, juga meminta kesediaan saya menjadi ketua MKA. Namun pada waktu itu juga saya tolak, karena masih banyak tokoh-tokoh lain, carilah yang lain yang lebih patut. Pada hari kamis, tanggal 13 Juni 2019 Suherman Dt. Penghulu Sutan kembali menemui saya dan menyampaikan bahwa beliau dengan datuk-datuk yang lain sudah mencari orang lain yang dianggap cakap untuk menjadi ketua, namun belum menemukan, oleh karena nya beliau kembali meminta saya untuk bersedia memimpin LAMR karena sudah cukup lama lembaga ini tidak jelas ujung pangkalnya. Kemudian saya menyampaikan kalau memang begitu permintaan datuk-datuk, perlu saya sampaikan bahwa saya bukanlah orang yang memangku gelar Datuk, saya hanya cucu kemenakan yang selalu membantu kegiatan Datuk-datuk pemangku adat di Lubuk Jambi. Sebelum saya menjawab permintaan datuk-datuk, saya harapkan datuk-datuk untuk menemui Syamsinar Dt. Rajo Suaro (Penghulu Pucuk Suku Piliang Lubuk Jambi) dan meminta izin kepadanya. Keesokan harinya, Datuk Penghulu Sutan dan kawan-kawan menjumpai Datuk Rajo Suaro di kediamannya di desa Kinali. Dalam pertemuan itu disampaikanlah maksud kedatangan mereka, Syamsinar Dt. Rajo Suaro menyambut baik dan mengizinkan saya untuk diamanahkan menjadi ketua LAMR Kuantan Singingi. Bahkan Datuk Rajo Suaro menyatakan "kalau syaratnya Gelar Adat untuk menjadi pucuk pimpinan lembaga itu, gelar yang saya pegang ini pakaikan pada cucu saya itu". Pada hari ahad, 16 Juni 2019 kembali saya berjumpa dengan Datuk Penghulu Sutan dan Datuk Jumlis dan menyatakan dukungan kepada saya untuk menjadi ketua MKA LAMR. Pernyataan dukungan datang dari kecamatan-kecamatan yang kepengurusan LAMR masih berlaku, diantaranya Kecamatan Singingi Hilir, Kecamatan Kuantan Tengah, Kecamatan Benai, Kecamatan Kuantan Hilir Seberang, Kecamatan Sentajo Raya, dan Kecamatan Cerenti. Maka pada tanggal 4 Juli 2019 dilaksanakan Rapat Pleno Lengkap MKA LAMR Kuantan Singingi di Balai Melayu Pekanbaru, sebagai mana rilis berita sebagai beeikut.

Rapat Pleno LAMR bersama LAMR Kabupaten Kuantan Singingi tetapkan Pebri Mahmud sebagai Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat LAMR Kabupaten Kuantan Singingi Masa Bakti 2019-2024

Pekanbaru (4-7-2019) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) bersama Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Kuantan Singingi melaksanakan Rapat Konsultasi terkait dinamika yang terjadi dalam LAMR Kabupaten Kuantan Singingi dan mengevaluasi hasil Musda LAMR Kuantan Singingi tahun 2018, bertempat di Balai Melayu LAMR Jl. Diponegoro Pekanbaru. Karena kevakuman yang terjadi pasca musda lebih dari 1 tahun dengan berbagai pertimbangan dan mengacu kepada AD/ART LAMR, Rapat Konsultasi tersebut disepakati untuk ditingkatkan menjadi Rapat Pleno bersama LAMR dengan LAMR Kabupaten Kuantan Singingi dengan agenda Penetapan Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Kabupaten Kuantan Singingi masa Bakti 2019-2024, karena berbagai pertimbangan perlu dilakukan penggantian.

Rapat Pleno tersebut dibuka langsung oleh Ketua DPH LAMR Datuk Seri Syahril Abubakar, dan rapat pleno di pimpin oleh beberapa unsur, Nasir Panyalai (Sekretaris Umum DPH LAMR) Sebagai Ketua, Yusman Hakim (Plt. LAMR Kuantan Singingi sebagai sekretaris), Anton Surya Atmaja (Pengrus LAMR) sebagai anggota, M. Nasir Dt. Laksamano (LAMR Kec. Singingi Hilir) sebagai Anggota, Suherman Dt. Penghulu Sutan (LAMR Kec. Benai) sebagai anggota. Rapat Pleno dihadiri oleh Ketua LAMR Kecamatan Se Kabupaten Kuantan Singingi. Dengan Musyawarah Mufakat Rapat Pleno mengangkat Pebri Mahmud Dt. Malakewi sebagai Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat / Tim Formatur LAMR Kabupaten Kuantan Singingi masa bakti 2019-2024. Dalam putusannya Ketua MKA sebagai ketua formatur bersama-sama dengan anggota tim formatur lainnya diberikan waktu 14 hari menyusun Pengurus LAMR Kabupaten Kuantan Singingi masa bakti 2019-2024.

Surat Keputusan Rapat Pleno dibacakan oleh Yusman Hakim sebagai sekretaris Pimpinan Rapat pukul 21.00 WIB. Dan Surat Keputusan diserahkan oleh Sekretaris Umum LAMR Nasir Panyalai kepada Ketua MKA Terpilih Pebri Mahmud Dt. Malakewi.

Pebri Mahmud sebagai Ketua MKA LAMR Kabupaten Kuantan Singingi mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh Datuk-Datuk Ketua LAMR Kecamatan Se Kabupaten Kuantan Singingi. Dalam memimpin LAMR Kabupaten Kuantan Singingi, Pebri berharap masukan dan saran yang membangun untuk kemajuan Organisasi yang menaungi masyarakat adat yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi. "Maklum lah umur belum setahun jagung, darah belum setampuk pinang, masih relatif muda untuk didaulat sebagai ketua umum". Dalam mengnakhodai LAMR Kuantan Singingi, Pebri berharap mari sama-sama bahu membahu, kok borek samo dipikul, kok ringan samo dijinjiang, kok kusuik samo manyalosaikan, kok koruah samo manjoniahkan, sadonciang bak bosi, saciok bak ayam, ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun, tadorong jojak manurun, tatukiak jojak mandaki, adat jo syarak kok tasusun, bumi sonang padi manjadi.